Dengarlah Anakku!
Aku berbicara hal ini ketika kamu sedang tidur. Di pipimu ada bekas cakaran dan di dahimu yang lebar tertutup rambutmu yang basah. Diam-diam aku masuk ke kamarmu. Beberapa hari sebelum ini, sewaktu aku membaca surat koran, tiba-tiba aku didatangi rasa kesal yang dalam. Dengan perasaan sangat bersalah, aku perlahan-lahan mendekati kamarmu.
Dalam diri ini, hanya satu yang kupikirkan. Aku telah bertindak kasar terhadapmu, anakku. Aku membentakmu sewaktu kamu memakai pakaian untuk pergi ke sekolah, hanya karena kamu cuma mencuci muka saja. Aku menghukum kamu karena kamu tidak mencuci sepatumu. Aku marah-marah sewaktu kamu menyerakkan barang-barangmu di atas lantai.
Ketika sarapan, aku juga menemui kesalahan. Kamu jatuhkan piring, kamu tumpahkan makanan.
Ingatkah kamu, setelah itu sewaktu aku membaca koran. Kamu datang dalam ketakutan dan di wajahmu tergambar kesakitan? Ketika itu aku sedang sibuk membaca, lalu kamu ragu-ragu berdiri di samping pintu. “Apa mau kamu?!”, tanya aku.
Kamu tidak berkata apa-apa, tetapi terus berlari ke arahku dan merangkul bahuku kuat-kuat lalu mencium pipiku. Tangan mungilmu merengkuh dengan kelembutan yang diberikan Tuhan dalam fitrahmu. Kemudian kamu pergi, naik ke tempat tidurmu.
Tidak lama setelah itu, anakku. Koran yang aku baca terjatuh dan perasaan cemas tiba-tiba mencengkam diriku. Oh, kegilaan apa yang merasuk diriku? Kegilaan mencari-cari kesalahan dan memaksamu. Inikah hadiah yang aku berikan kepadamu sebagai anak lelaki? Aku lakukan semua ini kerana sayang kamu, malangnya aku mengharapkan terlalu banyak dari usiamu yang masih kecil. Aku mengukur dirimu dengan apa yang aku alami ketika seusiamu.
Anakku, kamu memang baik, dan lembut. Hatimu yang kecil ternyata luas sekali, seluas langitan. Aku melihatnya ketika kamu dengan spontan berlari dan menciumku sebagai ucapan Selamat Malam! Malam ini hanya kamu di pikiranku, anakku. Kini aku berada di kamarmu dalam kegelapan dan aku berlutut di situ, malu kepada diriku sendiri!
Ini memang satu penyesalan yang tidak berguna. Aku tahu kamu tidak akan mengerti apa-apa sekiranya aku katakan semua ini kepadamu. Tetapi besok aku harus bersungguh-sungguh menjadi seorang Ayah! Aku akan menjagamu, menderita apabila kamu menderita dan tertawa apabila kamu tertawa. Lidahku akan kutahan apabila datang kata-kata yang tidak sabar. Aku hanya akan berbisik kepada diriku, “Anakku masih anak-anak, seorang anak kecil!”.
Aku bimbang kerana telah memperlakukanmu sebagai seorang dewasa. Namun, ketika aku memandangmu sekarang, anakku. Tidur meringkuk dan keletihan di sebalik selimutmu, aku menyadari kamu masih terlalu kecil. Tempo hari kamu masih digendong ibumu, kepalamu tersandar di bahunya.
Aku telah meminta terlalu banyak anakku, terlalu banyak!
No comments:
Post a Comment